Magetan – Net88.co — Kebijakan Pemerintah Kabupaten Magetan yang tidak memasukkan sektor pariwisata dalam prioritas Musrenbang RKPD 2027 menuai kritik tajam. Keputusan tersebut dinilai berisiko memperdalam kelesuan sektor wisata yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.
Padahal, di tengah tren penurunan jumlah wisatawan, pemerintah justru dianggap tidak menghadirkan langkah strategis.
Aktivis Magetan, Widyastuti, menilai absennya sektor pariwisata dalam dokumen perencanaan pembangunan menunjukkan lemahnya arah kebijakan pemerintah daerah.
“Penurunan jumlah wisatawan seharusnya menjadi alarm. Tapi justru sektor pariwisata tidak masuk prioritas. Ini menunjukkan pemerintah belum memiliki arah yang jelas dalam pengembangan wisata,” tegas Widya.
Ia menilai pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat sektor ekonomi berbasis pariwisata yang berdampak langsung pada masyarakat. Terlebih, potensi wisata desa dinilai belum tersentuh secara serius dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Wisata desa bisa menggerakkan UMKM dan ekonomi kreatif. Kalau pariwisata tidak diprioritaskan, maka dampaknya langsung terasa pada ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Kritik serupa datang dari Sekjen PHRI Magetan, Bunda Nissan. Ia menyoroti minimnya inovasi di kawasan wisata unggulan Telaga Sarangan yang dinilai semakin tertinggal dibanding daerah lain.
Menurutnya, stagnasi pengembangan destinasi wisata menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah kunjungan wisatawan. Bahkan, kondisi tersebut turut berdampak pada sektor perhotelan yang mengalami penurunan okupansi saat Lebaran tahun ini.
“Biasanya H-1 hingga H+2 sudah ramai, tapi tahun ini justru sepi. Hotel baru penuh di H+3 dan H+4. Ini menunjukkan ada penurunan signifikan dan belum ada solusi dari pemerintah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti persoalan klasik seperti praktik “getok harga” yang dinilai terus berulang tanpa penanganan tegas. Menurutnya, pembiaran tersebut berdampak pada citra wisata Sarangan.
“Selama ini tidak ada tindakan tegas. Akibatnya, masalah terus berulang dan wisatawan jadi enggan kembali,” katanya.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan memperkuat kondisi tersebut. Jumlah pengunjung pada Hari H Lebaran 2026 tercatat 3.038 orang, turun dari 3.268 pengunjung pada 2025. Sementara H+1 tercatat 9.512 orang, menurun dibandingkan 11.004 orang pada tahun sebelumnya.
Tidak masuknya sektor pariwisata dalam prioritas RKPD 2027 dinilai menjadi sinyal lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam menjaga sektor strategis tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pariwisata Magetan semakin tertinggal dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor wisata. (UV)







