Oleh: Bang Juned
Politik memiliki satu ironi yang terus berulang. Ketika seseorang sedang berjuang merebut jabatan, hampir semua orang yang datang membawa dukungan disambut dengan tangan terbuka. Telepon cepat diangkat, pesan segera dibalas, pintu rumah terbuka, dan pertemuan dengan masyarakat menjadi agenda yang dianggap penting.
Namun keadaan terkadang berubah setelah kemenangan diraih.
Orang-orang yang dahulu berada di barisan perjuangan perlahan sulit bertemu. Pesan yang sebelumnya dibalas dalam hitungan menit bisa berhari-hari tanpa jawaban. Mereka yang dahulu dipanggil sebagai sahabat seperjuangan bahkan harus melewati banyak pintu hanya untuk menyampaikan aspirasi.
Di sinilah muncul pertanyaan sederhana: apakah kekuasaan telah membuat seorang pejabat lupa kepada orang-orang yang pernah berjuang bersamanya?
Saat Butuh Dukungan, Semua Disebut Keluarga
Masa pemilihan adalah periode ketika hubungan politik terasa begitu dekat.
Calon pejabat turun ke desa, mendatangi rumah warga, menghadiri pertemuan kecil, berdialog dengan tokoh masyarakat, menemui relawan, bahkan duduk bersama masyarakat hingga larut malam.
Relawan dan pendukung bergerak dengan caranya masing-masing.
Ada yang memasang baliho. Ada yang mengorganisasi pertemuan. Ada yang menggunakan kendaraan dan uang pribadi. Ada yang menjaga suara. Ada yang menghadapi kritik. Bahkan tidak sedikit yang mempertaruhkan hubungan sosial karena secara terbuka menyatakan dukungan kepada calon tertentu.
Saat itu satu kalimat sering terdengar:
“Kita keluarga. Perjuangan ini perjuangan bersama.”
Kalimat tersebut terdengar indah.
Tetapi maknanya baru benar-benar diuji setelah kemenangan datang.
Kemenangan Bukan Hanya Hasil Kerja Kandidat
Tidak ada kemenangan politik yang berdiri sendirian.
Di belakang seorang kepala daerah, anggota legislatif, kepala desa maupun pejabat politik lainnya selalu terdapat jaringan manusia yang bekerja.
Ada tim resmi yang tercatat dalam struktur. Ada pula orang-orang yang namanya tidak pernah muncul dalam dokumentasi kampanye tetapi memiliki pengaruh besar di lingkungannya.
Mereka mengetuk pintu rumah warga.
Mereka menjelaskan visi kandidat.
Mereka meyakinkan keluarga dan tetangganya.
Mereka menghadapi perdebatan.
Sebagian bahkan mengeluarkan biaya sendiri tanpa pernah meminta penggantian.
Karena itu, ketika kemenangan akhirnya diperoleh, jangan sampai muncul anggapan bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena kehebatan kandidat.
Kursi kekuasaan mungkin hanya diduduki satu orang, tetapi jalan menuju kursi itu dibangun oleh banyak tangan.
Pendukung Bukan Berarti Berhak Meminta Jabatan
Namun persoalan ini juga harus ditempatkan secara proporsional.
Mengingat pendukung bukan berarti pejabat wajib membagi jabatan, proyek, bantuan atau fasilitas kepada orang-orang yang pernah mendukungnya.
Pemerintahan tidak boleh berubah menjadi arena pembagian hadiah politik.
Jabatan publik harus diberikan berdasarkan kompetensi dan ketentuan. Anggaran harus digunakan berdasarkan kepentingan masyarakat. Proyek pemerintah harus mengikuti mekanisme yang berlaku.
Pendukung pun tidak seharusnya menggunakan jasa politik masa lalu untuk menuntut perlakuan istimewa.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sederhana yang bisa diberikan seorang pejabat kepada orang-orang yang pernah berjalan bersamanya:
penghargaan, komunikasi dan kesempatan untuk didengar.
Tidak semuanya meminta proyek.
Tidak semuanya meminta jabatan.
Tidak semuanya meminta uang.
Terkadang mereka hanya ingin ketika mengirim pesan mendapatkan jawaban.
Ketika membawa persoalan masyarakat, mereka ingin didengar.
Dan ketika bertemu, mereka berharap masih diperlakukan sebagai manusia yang pernah berjalan bersama, bukan sebagai orang asing yang keberadaannya dianggap mengganggu.
Kekuasaan Sering Mengubah Lingkaran Pertemanan
Setelah seseorang menduduki jabatan, lingkungan sosialnya hampir pasti berubah.
Orang-orang baru berdatangan.
Ada birokrat, pengusaha, politisi, konsultan, tokoh masyarakat hingga kelompok-kelompok yang sebelumnya mungkin tidak pernah terlihat ketika perjuangan masih berat.
Ini merupakan sesuatu yang wajar.
Seorang pejabat memang harus berkomunikasi dengan banyak pihak.
Yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang baru justru membuat orang-orang lama sepenuhnya tersingkir.
Lebih berbahaya lagi apabila pejabat akhirnya hanya mendengar mereka yang selalu mengatakan:
“Bapak benar.”
atau
“Semua aman.”
Padahal pendukung lama terkadang justru menjadi orang yang berani mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Mereka mengkritik karena merasa ikut memiliki perjuangan tersebut.
Kritik semacam itu jangan selalu dianggap sebagai serangan.
Bisa jadi itulah alarm paling jujur yang masih dimiliki seorang pejabat.
Jangan Hanya Ingat Rakyat Menjelang Pemilu
Fenomena lupa setelah mendapatkan kekuasaan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan relawan.
Masalah yang lebih besar adalah ketika pejabat mulai jauh dari masyarakat.
Sebelum pemilihan, gang sempit didatangi.
Setelah terpilih, masyarakat harus membuat janji.
Sebelum pemilihan, nomor telepon dibagikan.
Setelah menjabat, nomor tersebut sulit dihubungi.
Sebelum pemilihan, masyarakat disebut pemilik kekuasaan.
Setelah kemenangan, masyarakat terkadang hanya menjadi penonton.
Kemudian ketika masa jabatan hampir selesai, suasana lama kembali muncul.
Silaturahmi kembali dilakukan.
Pesan mulai dibalas.
Tokoh masyarakat kembali didatangi.
Relawan lama kembali dicari.
Jika politik hanya bekerja seperti itu, hubungan antara pemimpin dan masyarakat akhirnya berubah menjadi hubungan transaksional lima tahunan.
Padahal demokrasi tidak seharusnya demikian.
Relawan Juga Harus Berani Mengingatkan
Pendukung sejati bukan orang yang selalu memuji pejabat yang didukungnya.
Justru ketika orang yang pernah diperjuangkan mulai melenceng, pendukung memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan.
Dukungan politik bukan cek kosong.
Ketika kebijakan baik, dukung.
Ketika kebijakan salah, kritik.
Ketika janji belum dilaksanakan, tanyakan.
Ketika masyarakat dirugikan, berdirilah bersama masyarakat.
Kesetiaan kepada seseorang tidak boleh mengalahkan kesetiaan kepada kepentingan publik.
Sebab tujuan perjuangan politik seharusnya bukan sekadar mengantarkan seseorang mendapatkan kursi, tetapi memastikan kursi tersebut digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Kursi Itu Tidak Selamanya
Setiap pejabat perlu mengingat satu kenyataan sederhana:
jabatan mempunyai batas waktu.
Hari ini seseorang mungkin dikawal, dihormati dan memiliki kewenangan besar.
Besok semuanya dapat berubah.
Ketika masa jabatan berakhir, kendaraan dinas dikembalikan, ajudan tidak lagi mendampingi, protokoler berhenti mengatur agenda, dan orang-orang yang datang karena kepentingan mungkin perlahan menghilang.
Pada saat itulah akan terlihat siapa yang benar-benar menjadi sahabat.
Karena itu, jangan sampai kekuasaan membuat seseorang kehilangan hubungan dengan mereka yang pernah berdiri bersamanya ketika belum memiliki apa-apa.
Lebih penting lagi, jangan sampai kekuasaan membuat seorang pemimpin kehilangan hubungan dengan rakyat yang telah memberikan mandat kepadanya.
Jangan Tunggu Pemilu Berikutnya untuk Mengingat Mereka
Pejabat tidak harus memenuhi seluruh permintaan pendukungnya.
Pejabat juga tidak boleh memberikan keistimewaan yang melanggar aturan hanya karena seseorang pernah berjasa dalam perjuangan politik.
Tetapi menghargai orang tidak membutuhkan APBD.
Membalas komunikasi tidak membutuhkan proyek.
Mendengar kritik tidak membutuhkan jabatan.
Dan menjaga silaturahmi tidak membutuhkan anggaran negara.
Karena pada akhirnya masyarakat akan mengingat bukan hanya apa yang dibangun seorang pejabat, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan manusia ketika sedang berada di puncak kekuasaan.
Jangan hanya mengenal mereka ketika membutuhkan suara.
Jangan hanya memanggil mereka saudara ketika membutuhkan perjuangan.
Dan jangan menunggu musim politik berikutnya untuk kembali mengetuk pintu orang-orang yang pernah dilupakan.
Sebab kemenangan memang dapat mengantarkan seseorang menuju kekuasaan.
Tetapi sikap setelah berkuasalah yang menentukan apakah seseorang tetap dikenang sebagai pemimpin, atau sekadar pejabat yang pernah memiliki jabatan.

