SUMENEP, NET88.CO – Kasus kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep kembali menuai sorotan. Setelah sebelumnya Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi suspend terhadap empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), persoalan serupa kembali muncul.
Kali ini, makanan MBG yang didistribusikan di wilayah Lenteng Barat pada Kamis (5/3) dilaporkan dalam kondisi berjamur. Program yang seharusnya menjamin asupan gizi bagi para siswa justru memicu kekhawatiran masyarakat terkait standar kebersihan dan kualitas makanan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, MBG tersebut berasal dari SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Darul Arqom Batukerbuy. Temuan makanan berjamur itu pun langsung menjadi perbincangan di kalangan wali murid dan pemerhati program MBG.
Pemerhati masalah MBG, Bambang Supratman, SH, menilai kejadian ini menunjukkan bahwa efek jera dari sanksi yang sebelumnya dijatuhkan oleh BGN belum sepenuhnya dirasakan oleh para pengelola SPPG.
“Seharusnya setelah ada empat SPPG di Kabupaten Sumenep yang disuspend oleh BGN, itu menjadi pelajaran serius bagi semua pengelola. Namun kenyataannya, kasus makanan berjamur masih saja terjadi,” ujarnya.
Menurut Bambang, program MBG merupakan program strategis pemerintah yang menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak. Karena itu, pengawasan terhadap kualitas makanan harus dilakukan secara ketat.
Ia juga mendorong Badan Gizi Nasional serta pemerintah daerah untuk tidak ragu mengambil tindakan tegas apabila ditemukan kelalaian dalam penyediaan makanan bagi siswa.
“Kalau kualitas makanan sampai berjamur, ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ini menyangkut tanggung jawab besar terhadap kesehatan anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG maupun yayasan yang menaunginya belum memberikan keterangan resmi terkait temuan makanan MBG berjamur tersebut.
Moo/Red

