SUMENEP NET88.CO – Puluhan ribu penonton membeludak di Stadion A Yani Panglegur, Sumenep, Jumat malam (2/1/2026). Euforia pecah saat Valen dan Mila naik ke atas panggung. Namun di balik gegap gempita konser besar itu, penonton justru menelan kekecewaan serius akibat kualitas musik pengiring yang dinilai jauh dari standar konser stadion.
Sejak sore hari, lautan manusia sudah memadati area stadion. Antusiasme tinggi tak terbantahkan. Sayangnya, euforia tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas penyajian musik. Sejumlah penonton secara terbuka menilai musik pengiring tak selevel dengan kelas acara, bahkan disebut “kelas RT”.
“Parah banget, bikin yang nyanyi jadi nggak nyaman,” tegas seorang penonton yang akrab disapa Bang Thom.
Sorotan tajam juga datang dari Kharis Aziz. Ia menegaskan kritik ini bukan menyalahkan artis, melainkan persoalan serius di luar kendali penyanyi. Menurutnya, musik pengiring yang tidak profesional justru menjadi ujian paling berat di atas panggung.
“Maaf ya, ini bukan nyalahin Mila. Ini ujian sebenarnya di luar artis, salah satunya musik yang tidak profesional. Artis dan penyanyi harus siap dengan kondisi seperti ini. Semoga sukses selalu,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan Annye Rz. Ia secara blak-blakan menyarankan agar personel musik pengiring belajar lagi dan berbenah. Menurutnya, tampil di konser stadion dengan puluhan ribu penonton menuntut standar tinggi, bukan sekadar asal tampil.
“Betul banget, mungkin harus belajar lagi personel grup musiknya, maaf,” tulisnya.
Kritik pedas tersebut ramai bergulir di media sosial. Penonton menilai panitia gagal membaca kelas acara dan terkesan abai terhadap kualitas elemen pendukung konser. Musik pengiring yang seharusnya menjadi tulang punggung pertunjukan justru berubah menjadi titik lemah paling mencolok.
Meski konser berlangsung hingga selesai dan relatif aman dari sisi pengamanan, cacat pada kualitas musik menjadi catatan keras. Bagi penonton, ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan indikasi lemahnya perencanaan dan standar penyelenggaraan.
Stadion boleh penuh, euforia boleh pecah. Namun tanpa profesionalisme di semua lini, konser besar hanya akan menyisakan kekecewaan publik. Jika pola seperti ini terus dibiarkan, jangan heran bila kepercayaan penonton terhadap kualitas konser di Sumenep perlahan terkikis dari panggung ke panggung.
Moo/Red

