SUMENEP, NET88.CO – Menjelang puncak musim panen tembakau, Paguyuban Pengusaha Rokok (PR) Kabupaten Sumenep menyerukan kepada seluruh perusahaan rokok di wilayah setempat agar mengutamakan pembelian tembakau hasil produksi petani lokal. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya nyata dalam menjaga keberlangsungan industri hasil tembakau sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Sumenep.
Selain itu, para petani juga diimbau untuk tidak melakukan panen dini. Pasalnya, kualitas tembakau menjadi salah satu faktor utama yang menentukan harga jual di pasaran. Tembakau yang dipanen sebelum waktunya dikhawatirkan akan menurunkan mutu, sehingga berdampak pada nilai ekonominya.
Ketua Paguyuban PR Kabupaten Sumenep, H. Syafwan Wahyudi, mengatakan, seluruh perusahaan rokok, baik skala kecil maupun besar, harus memiliki komitmen yang sama dalam mendukung petani lokal melalui penyerapan hasil panen mereka.
Menurutnya, keberadaan industri hasil tembakau di Kabupaten Sumenep tidak bisa dipisahkan dari peran petani yang selama ini menjadi tulang punggung penyedia bahan baku. Oleh karena itu, sinergi antara petani dan pelaku usaha harus terus dijaga agar roda perekonomian daerah tetap bergerak.
“Tembakau bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan sumber penghidupan ribuan keluarga di Kabupaten Sumenep. Seluruh pelaku industri rokok diharapkan memprioritaskan penyerapan hasil panen petani lokal pada musim panen tahun ini, karena hal itu menjadi kunci menjaga keberlangsungan industri hasil tembakau sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar H. Syafwan Wahyudi, Senin (27/7/2026).
Pria yang akrab disapa Udik itu menegaskan, komitmen membeli tembakau lokal bukan hanya memberikan kepastian pasar bagi petani, tetapi juga akan menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar di Kabupaten Sumenep.
Menurut pemilik merek rokok DRT The Big Family tersebut, ketika hasil panen petani terserap oleh industri lokal, maka manfaat ekonominya akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Mulai dari meningkatnya pendapatan petani, terbukanya lapangan kerja, hingga tumbuhnya aktivitas ekonomi di sektor perdagangan dan jasa.
“Keberpihakan terhadap tembakau lokal bukan hanya persoalan bisnis, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial pelaku usaha dalam menjaga perputaran ekonomi daerah. Ketika industri membeli tembakau dari petani sendiri, maka manfaatnya akan kembali kepada masyarakat Sumenep,” tegasnya.
Di sisi lain, Udik juga mengingatkan para petani agar tidak tergoda memanen tembakau lebih awal hanya karena mengejar harga atau kekhawatiran cuaca. Ia menilai, panen dini justru dapat menurunkan kualitas daun tembakau yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual dan daya saing produk.
Ia berharap petani tetap mengikuti standar budidaya yang baik agar menghasilkan tembakau dengan kualitas maksimal. Dengan demikian, industri rokok juga akan memperoleh bahan baku yang sesuai kebutuhan produksi.
Lebih lanjut, Paguyuban PR Sumenep berkomitmen terus membangun komunikasi dengan para pelaku industri maupun kelompok tani agar tercipta hubungan kemitraan yang saling menguntungkan. Menurutnya, keberhasilan sektor tembakau tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi juga oleh adanya kepastian pasar dan kualitas hasil panen.
Kabupaten Sumenep selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di Madura. Komoditas tersebut menjadi penopang utama perekonomian masyarakat di berbagai kecamatan dan memberikan kontribusi besar terhadap aktivitas industri hasil tembakau.
Karena itu, Paguyuban PR Sumenep berharap seluruh perusahaan rokok yang beroperasi di Kabupaten Sumenep benar-benar mengedepankan semangat keberpihakan kepada petani lokal. Dengan kolaborasi antara petani dan pelaku industri, sektor pertembakauan diharapkan terus tumbuh, mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat perekonomian daerah secara berkelanjutan.
Moo/MIO

