Reyog Kendhang hingga kreasi kostum dan replika kapal warnai pawai, semangat gotong royong dan ketahanan pangan menjadi pesan utama
TULUNGAGUNG | NET88.CO – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Ribuan warga dan peserta antusias memeriahkan Moyoketen Carnival 2026, Minggu (30/8/2026).
Mengusung tema “Ketahanan Pangan, Seni, dan Budaya”, carnival menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkuat semangat gotong royong, kerukunan, persatuan, dan kebersamaan.
Sejak sekitar pukul 13.00 WIB, berbagai kelompok peserta dari masing-masing RT dan RW mulai menampilkan beragam kreasi dalam pawai. Kostum fantasi, karya seni, kreasi perahu hingga replika kapal menjadi daya tarik bagi masyarakat yang memadati sepanjang rute.
Nuansa budaya lokal semakin terasa dengan hadirnya Reyog Kendhang, salah satu kesenian khas Tulungagung. Penampilan tersebut sekaligus mempertegas komitmen masyarakat Moyoketen dalam menjaga dan mengenalkan kekayaan seni budaya daerah kepada generasi berikutnya.
Pawai dimulai dari Lapangan Moyoketen, kemudian bergerak menuju simpang tiga Pondok MIA, dilanjutkan ke simpang tiga Warkop Brombong ke arah selatan, melewati Panggung Kehormatan, dan berakhir di SD Negeri 1 Moyoketen.
Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 18.30 WIB. Memasuki malam hari, kemeriahan berlanjut dengan hiburan audio sound horeg yang semakin menyemarakkan suasana perayaan kemerdekaan di Desa Moyoketen.
Kepala Desa Moyoketen, Hari Purwanto, mengatakan Moyoketen Carnival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi hiburan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Menurutnya, keberagaman kreativitas yang ditampilkan warga merupakan salah satu kekuatan desa yang perlu terus dirawat dan dikembangkan.
“Semangat gotong royong dan kebersamaan harus tetap dijaga, karena dari sinilah kekuatan desa dibangun,” ujar Hari Purwanto.
Ia menilai seni, budaya, kostum fantasi hingga berbagai kreasi masyarakat dapat menjadi sarana bagi warga untuk menyalurkan kreativitas sekaligus memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Desa Moyoketen.
Hari berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang dengan melibatkan semakin banyak elemen masyarakat.
Selain memberikan hiburan, carnival diharapkan mampu menjadi sarana promosi potensi seni, budaya, kreativitas serta ketahanan pangan desa.
“Bukan hanya meriah, tetapi juga harus membawa manfaat dan pesan positif bagi masyarakat. Semoga semangat Merdeka, Bersama, Hebat Semua! benar-benar menjadi semangat kita dalam membangun Desa Moyoketen,” ucapnya.
Tema ketahanan pangan yang diangkat dalam carnival juga membawa pesan mengenai pentingnya membangun masyarakat desa yang mandiri dan berdaya. Pesan tersebut dipadukan dengan unsur seni, budaya dan kreativitas sehingga kegiatan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi turut membawa nilai sosial dan kebangsaan.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa Moyoketen Carnival 2026 bukan sekadar parade tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi warga untuk berkreasi, merawat budaya lokal, mempererat persaudaraan serta menunjukkan kekuatan keberagaman masyarakat desa.
Kehadiran Reyog Kendhang menjadi salah satu simbol kuatnya akar seni dan budaya lokal. Sementara kostum fantasi, kreasi perahu, replika kapal dan berbagai karya peserta menunjukkan besarnya potensi kreativitas masyarakat Moyoketen.
“Melalui Moyoketen Carnival 2026, semangat kemerdekaan diterjemahkan dalam bentuk kebersamaan, kreativitas, budaya, gotong royong, dan partisipasi masyarakat. Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi modal penting dalam membangun Desa Moyoketen yang semakin guyub, kreatif, mandiri, dan maju,” pungkas Hari Purwanto.
(Dhlo/Dst)

