SUMENEP, NET88.CO – Setiap 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hajar Dewantara. Namun di tengah seremoni dan pidato tentang kemajuan pendidikan, realitas di lapangan justru menampilkan ironi yang sulit dibantah.
Di Kabupaten Sumenep, masih banyak sekolah dasar yang kondisinya jauh dari kata layak. Atap bangunan hancur, plafon rapuh, dan ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ancaman nyata bagi siswa. Ini bukan sekadar persoalan fasilitas, tapi menyangkut keselamatan jiwa.
Potret itu terlihat jelas di SDN Romben Barat 1 dan SDN Guluk-Guluk 3. Di dua sekolah tersebut, siswa masih dipaksa belajar di bawah atap yang bisa runtuh kapan saja. Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang dimaksud dengan kemajuan pendidikan?
Lebih ironis lagi, di saat pemerintah gencar menggulirkan berbagai program, mulai dari peningkatan kualitas belajar hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), aspek paling mendasar justru terabaikan. Apa arti makanan bergizi jika anak-anak belajar dalam ketakutan setiap hari?
Pendidikan bukan hanya soal kurikulum, angka partisipasi, atau program-program populis. Pendidikan dimulai dari hal paling dasar: ruang belajar yang aman dan layak. Tanpa itu, semua narasi tentang kemajuan hanya akan menjadi slogan kosong.
Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep. Hardiknas semestinya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk melihat kenyataan yang terjadi dan mengambil langkah konkret.
Jika hingga hari ini masih ada siswa yang belajar di bangunan nyaris ambruk, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya kebijakan, tetapi juga keberpihakan. Apakah keselamatan anak-anak benar-benar menjadi prioritas, atau hanya menjadi bahan pidato setiap tanggal 2 Mei?
Pada akhirnya, Hardiknas 2026 akan kehilangan makna jika kondisi seperti ini terus dibiarkan. Karena sejatinya, menghormati Ki Hajar Dewantara bukan dengan seremoni, melainkan dengan memastikan setiap anak Indonesia bisa belajar dengan aman, tanpa rasa takut tertimpa atap sekolahnya sendiri.
Penulis: Asmuni Bara

