Jakarta, 23 September 2026 — Nama Didin Marlin, musisi dan seniman bunyi asal Desa Kassi Tinambung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, masuk dalam daftar nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2026 untuk kategori Karya Produksi Kontemporer Terbaik melalui karya Sappo’na Sumange’ Mabali, yang menjadi bagian dari proyek musik Magismaja.
Bagi Didin, nominasi ini bukan sekadar pencapaian personal. Di balik karya tersebut terdapat perjalanan panjang yang berangkat dari tempat ia tumbuh, ingatan tentang lingkungan dan kebudayaan Sulawesi Selatan, proses pencarian artistik, hingga pertemuan dengan orang-orang yang kemudian ikut percaya dan mendukung perjalanan Magismaja.
Perjalanan tersebut membawa sebuah gagasan yang bermula dari desa di Kabupaten Pangkep menuju ruang musik kontemporer nasional.
Dari Kassi Tinambung, Sebuah Cara Mendengar Tumbuh
Didin Marlin lahir dan tumbuh di Desa Kassi Tinambung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sejak kecil, kedekatannya dengan lingkungan menjadi bagian dari cara ia mengenal dunia melalui bunyi. Suara alam, ruang tempat tinggal, serta ritme kehidupan sehari-hari menjadi pengalaman awal yang kemudian membentuk kepekaannya dalam mendengar.
Sebagai orang Bugis yang tumbuh di Sulawesi Selatan, pengalaman tersebut kemudian bertemu dengan pengetahuan musikal dan kebudayaan yang ada di sekitarnya. Namun bagi Didin, pengetahuan tersebut bukan sesuatu yang harus ditempatkan sebagai benda masa lalu.
Ia justru ingin melihat bagaimana pengetahuan musikal dari tempat asalnya dapat terus hidup, mengalami perubahan, dan menemukan bentuk baru melalui praktik musik hari ini.
Dari sinilah gagasan Magismaja mulai menemukan arahnya.
Dari Ingatan Menjadi Magismaja
Magismaja merupakan proyek penciptaan dan riset bunyi Didin Marlin yang merujuk pada Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja. Proyek ini berangkat dari upaya memahami pengetahuan musikal Sulawesi Selatan sebagai sesuatu yang hidup dan dapat terus ditafsirkan melalui penciptaan musik kontemporer.
Dalam praktiknya, Didin mempertemukan gitar, elektronik, rekaman lapangan, pemrosesan bunyi secara langsung, improvisasi, serta eksplorasi ritme yang berangkat dari pengetahuan musikal Sulawesi Selatan.
Bunyi dalam Magismaja tidak hanya menjadi materi untuk membuat musik. Ia menjadi jalan untuk mengingat, menelusuri asal-usul, memahami hubungan antargenerasi, dan mempertanyakan kembali bagaimana sebuah pengetahuan dapat terus diwariskan melalui pengalaman mendengar.
Pada Mei 2026, perjalanan tersebut diwujudkan melalui EP Magismaja: Sound as a Way to Memory yang dirilis melalui Bahasa Ibu Records.
Di dalam proyek ini, pengalaman personal dan pengetahuan budaya bertemu. Ingatan tentang keluarga, tempat asal, arsip, ritme, suara, dan pengalaman hidup dipertemukan dengan bahasa komposisi yang lebih eksperimental.
Salah satu karya dalam perjalanan tersebut adalah Sappo’na Sumange’ Mabali, yang kemudian membawa nama Didin ke dalam nominasi Karya Produksi Kontemporer Terbaik AMI Awards 2026.
Ketika Perjalanan Personal Menemukan Orang-Orang yang Percaya
Magismaja pada awalnya tumbuh dari proses yang sangat personal. Ada gagasan yang dikerjakan sendiri, ada pencarian yang berlangsung perlahan, dan ada banyak hal yang belum diketahui akan membawa proyek ini ke mana.
Namun perjalanan itu kemudian berubah ketika Didin mulai bertemu dengan orang-orang yang tidak hanya mendengarkan gagasannya, tetapi juga bersedia memberikan ruang, dukungan, energi, dan kepercayaan agar Magismaja dapat terus berkembang.
Dalam perjalanan tersebut, ada Franscisca Dini, Willy Manembu, Cawa Laoki, Irfan Laoki, Ilham Laoki, Citra Budiono, Arhamuddin Ali, Ichsan Hatib, Muh. Fadhly Kurniawan, Om Rey dari Studioomrey, Gita Ginting, Aloel, Keubitbit, Mikhael Adam, Jovial Lilipaly dan Togar yang menjadi bagian dari perjalanan Magismaja.
Dukungan tersebut hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang hadir melalui persahabatan, ruang untuk bereksperimen, pertukaran gagasan, kerja kreatif, kesempatan tampil, dukungan produksi, hingga kepercayaan sederhana yang membuat sebuah gagasan tetap memiliki alasan untuk diteruskan.
Bagi Didin, mereka adalah bagian dari cerita yang tidak selalu terlihat ketika sebuah karya akhirnya sampai ke publik.
Karena itu, nominasi AMI Awards 2026 juga menjadi momen untuk mengingat bahwa perjalanan Magismaja tidak pernah benar-benar berlangsung sendirian.
Dari Pangkep Menuju Panggung Nasional
Nominasi AMI Awards 2026 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Karya yang berangkat dari pengalaman dan pengetahuan yang tumbuh di Sulawesi Selatan kini berada dalam ruang apresiasi musik nasional.
Bagi Didin, hal ini membuka kemungkinan yang lebih luas untuk memperkenalkan praktik musik kontemporer yang lahir dari pengalaman daerah, tanpa harus melepaskan hubungan dengan akar pengetahuannya.
Kassi Tinambung dan Kabupaten Pangkep bukan sekadar bagian dari biodata. Tempat tersebut adalah bagian dari pengalaman yang membentuk cara Didin mendengar, berpikir, dan menciptakan musik.
Karena itu, perjalanan menuju nominasi ini juga membawa satu hal yang ingin terus ia tegaskan: bahwa gagasan artistik tidak selalu harus dimulai dari pusat kebudayaan atau industri.
Ia dapat tumbuh dari tempat yang jauh dari pusat perhatian, dari pengalaman sehari-hari, dari lingkungan sekitar, dan dari pengetahuan yang diwariskan secara personal maupun kolektif.
Sebuah Nominasi, Sebuah Awal Baru
Bagi Didin, nominasi AMI Awards 2026 bukanlah akhir dari perjalanan Magismaja. Justru sebaliknya, pencapaian ini menjadi salah satu titik untuk melihat kembali dari mana semuanya bermula dan sejauh apa sebuah gagasan dapat berjalan ketika terus dirawat.
Dari Kassi Tinambung, perjalanan itu berawal dari pengalaman mendengar. Dari ingatan, ia berkembang menjadi pencarian. Dari pencarian, lahirlah Magismaja.
Dan dari Magismaja, muncul pertemuan dengan orang-orang yang kemudian ikut mempercayai kemungkinan bahwa gagasan tersebut dapat tumbuh lebih jauh.
Kini, Sappo’na Sumange’ Mabali membawa perjalanan tersebut ke panggung AMI Awards 2026.
Didin berharap perjalanan ini dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai bagaimana musik kontemporer Indonesia dapat tumbuh dari keberagaman pengetahuan lokal, sekaligus membuka ruang agar lebih banyak cerita dari daerah dapat menemukan pendengarnya.
Bukan hanya tentang dari mana seorang musisi berasal, tetapi tentang bagaimana tempat tersebut ikut membentuk apa yang ia dengarkan, apa yang ia ingat, dan apa yang akhirnya ia ciptakan.
(Ysf)

