Pamekasan, NET88.CO –
Suasana SPBU Jalan Raya Nyalabu, Pamekasan mendadak “panas” Selasa (30/6/2026) malam. Ratusan pengendara tumpah ruah berebut BBM di tengah kelangkaan dan harga yang melonjak.
Antrean motor mengular sejak sore hingga tengah malam, memadati halaman SPBU hingga keluar ke area parkir luar. Petugas kewalahan melayani barisan yang tak kunjung surut.
Pertalite Langka, Pertamax Mahal
Mayoritas warga mengincar Pertalite Rp10.000, tapi stok subsidi cepat habis. Saat kosong, warga terpaksa beralih ke Pertamax Rp16.250 per liter.
“Kalau kepepet ya terpaksa isi Pertamax. Uang Rp20 ribu cuma dapat 1 liter lebih sedikit. Sangat memberatkan,” keluh pengendara yang sudah 2 jam antre.
Kondisi makin berat di pengecer. SPBU kosong bikin harga eceran Pertamax tembus Rp18.000/liter. Selisih Rp1.750 dari harga resmi langsung bebanin kantong warga.
“Ini sudah keterlaluan. Yang subsidi susah, yang nonsubsidi mahal. Mau lari kemana warga kecil?” ujar seorang pengendara.
Dampak Merembet ke Ekonomi Warga
Krisis BBM langsung berefek berantai. Ojek pangkalan naikkan tarif, pedagang sayur naikkan ongkos kirim. Ujungnya, beban paling berat tetap ke masyarakat bawah. Waktu, tenaga, dan uang habis di antrean.
“Subsidi susah didapat, nonsubsidi bikin dompet jebol. Kami benar-benar terjepit dari dua arah,” kata warga.
Warga Minta Negara Hadir
Dengan Pertamax Rp16.250 dan eceran Rp18.000, warga Madura minta perhatian pemerintah.
“Kami minta Pemkab Pamekasan dan pihak terkait jangan tutup mata. Awasi harga eceran dan pastikan BBM subsidi bisa kami rasakan. Jangan biarkan kami dicekik dua kali,” tegas warga.
Hingga berita diturunkan, antrean panjang di SPBU Nyalabu masih bertahan. Tanpa solusi cepat, antrean dan keluhan warga dipastikan terus berlanjut.(Jo)

