NEWS  

Pembangunan Jalan Asembagus Diduga Asal Jadi, Aspal Digelar di Atas Lumpur dan Genangan Air

Asembagus, NET88.CO — Proyek Pembangunan Jalan Lingkungan Desa Asembagus yang dikerjakan oleh CV. Medyatama menuai kritikan keras dari warga setelah penggelaran aspal hotmix tetap dilakukan saat hujan dan permukaan jalan masih tergenang air. Kondisi itu menimbulkan dugaan kuat bahwa pekerjaan dikerjakan asal-asalan dan tidak mengikuti standar konstruksi.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (4/12), sejumlah titik jalan terlihat basah, berlumpur, bahkan terdapat genangan air. Meski demikian, proses pengaspalan tetap dipaksakan berlangsung.

Foto-foto yang diambil warga menunjukkan lapisan aspal tampak tidak merata, bercampur air, dan berpotensi tidak menyatu sempurna dengan permukaan dasar.

“Ini jelas tidak sesuai prosedur. Aspal digelar saat hujan, jalan masih becek. Kalau seperti ini, umur jalan tidak akan lama. Dana proyek besar tapi dikerjakan seperti ini, sangat merugikan masyarakat,” tegas Dicky, salah satu warga Asembagus yang menjadi narasumber.

Proyek yang bernilai Rp 184.000.000, tapi kualitas dipertanyakan.
Berdasarkan papan proyek di lokasi, kegiatan ini merupakan:
Nama kegiatan: Pembangunan Jalan Lingkungan Desa Asembagus
Jenis kegiatan: Hotmix AC-WC
Volume: 230 meter
Sumber dana: APBD 2025
Nilai kontrak: Rp 184.082.500
Kontraktor pelaksana: CV. Medyatama
Nomor kontrak: 003.3.1.156.43/PKP-APBD/631.3931/2025
Dengan anggaran lebih dari Rp 184 juta, warga mempertanyakan mengapa pekerjaan justru dikerjakan tidak sesuai standar teknis dasar, yaitu larangan keras menggelar hotmix di atas permukaan yang basah atau tergenang air.

Para ahli konstruksi menegaskan bahwa aspal hotmix harus digelar pada kondisi cuaca cerah, suhu tertentu, serta permukaan yang kering dan padat. Jika dilanggar, hasil pekerjaan akan mudah retak, mengelupas, bahkan hancur dalam waktu singkat.Diduga ada pengabaian dari pihak engawas. Warga juga mempertanyakan kinerja pengawas dari dinas terkait. Dengan kondisi lapangan yang jelas-jelas tidak memenuhi syarat, proses pengaspalan tetap berjalan tanpa adanya tindakan penghentian atau evaluasi.

“Kalau pengawas benar-benar turun, ini tidak mungkin dibiarkan. Kami curiga pengawasan lemah atau bahkan sengaja diabaikan,” tambah Dicky.

Kesan terburu-buru dalam pengerjaan proyek juga terlihat jelas dari kondisi lapangan. Aspal tampak menumpuk di beberapa titik dan tidak menyatu rata. Genangan air di tengah proses penggelaran memperlihatkan indikasi bahwa kualitas menjadi nomor dua, sementara target penyelesaian justru diduga dipaksakan. Warga khawatir jika dibiarkan, proyek ini hanya membuang uang negara tanpa memberikan manfaat berkelanjutan.

Penulis : Sigit

BACA JUGA :
Banyak Prestasi dan Kebijakan Pro Rakyat, Paslon Jimad Sakteh Elektoral Terkuat di Pilkada 2024
error: Content is protected !!