NEWS  

KONI Bukan Rumah Orang Sakit, Tapi Rumah Para Petarung Olahraga

SUMENEP, NET88.CO – Sorotan terhadap kepemimpinan Sutan Hadi Tjahyadi di KONI Sumenep semakin menguat seiring kondisi kesehatan yang tengah dialaminya. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar di ruang publik: apakah organisasi olahraga bisa berjalan optimal jika dipimpin dalam kondisi fisik yang tidak prima?

KONI bukan sekadar struktur organisasi. Ia adalah jantung pembinaan olahraga daerah. Di dalamnya ada atlet yang berlatih keras, pelatih yang bekerja tanpa lelah, serta target prestasi yang harus dicapai dalam setiap ajang kompetisi.

Dunia olahraga memiliki standar yang jelas—kebugaran, disiplin, dan kesiapan fisik. Semua elemen bergerak dalam ritme cepat dan penuh tekanan. Karena itu, kepemimpinan di tubuh KONI menuntut lebih dari sekadar kehadiran formal. Dibutuhkan energi, mobilitas, dan keterlibatan langsung di lapangan.

BACA JUGA :
Polri Tetapkan Satu Tersangka AMD

Ketika kondisi kesehatan menjadi kendala, maka pertanyaan tentang efektivitas kepemimpinan menjadi tidak terelakkan.

Seorang atlet yang enggan disebutkan namanya mengaku merasakan dampak dari situasi tersebut. Menurutnya, kehadiran pimpinan sangat penting, bukan hanya dalam rapat, tetapi juga dalam pembinaan langsung.

“Kami butuh pemimpin yang benar-benar bisa hadir dan melihat kondisi atlet di lapangan. Bukan hanya sekadar ada di struktur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa semangat atlet sangat dipengaruhi oleh perhatian dan keterlibatan pimpinan organisasi.

“Kalau pemimpinnya aktif, kami juga lebih semangat. Tapi kalau jarang terlihat, ya rasanya beda,” katanya.

BACA JUGA :
Cegah Penularan TBC, Lapas Pamekasan Skrining Kesehatan Massal Warga Binaan

Sejumlah kalangan menilai, mempertahankan jabatan dalam kondisi sakit berpotensi menghambat laju organisasi. Bukan karena faktor pribadi, melainkan karena tuntutan peran yang memang tidak ringan. Ketua KONI dituntut hadir di berbagai agenda, memantau perkembangan cabang olahraga, hingga mengambil keputusan strategis dalam waktu cepat.

Di sisi lain, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi terkait kemungkinan pergantian atau evaluasi kepemimpinan di KONI. Hal ini memunculkan persepsi di masyarakat bahwa jabatan tetap dipertahankan meskipun kondisi kesehatan menjadi perhatian.

Padahal dalam dunia olahraga sendiri, ada prinsip yang sederhana namun tegas: jika tidak dalam kondisi fit, maka tidak dipaksakan untuk bertanding.

BACA JUGA :
Kemajuan Pembangunan Sai Bumi Nengah Nyappur Dapatkan Apresiasi Gubernur Lampung

Prinsip itu sejatinya tidak hanya berlaku bagi atlet, tetapi juga bagi mereka yang berada di balik layar, termasuk pemimpin organisasi.

KONI bukan tempat simbol. Ia adalah ruang kerja nyata yang menentukan masa depan olahraga daerah. Ketika kepemimpinan tidak berjalan optimal, maka dampaknya bisa merambat pada pembinaan, prestasi, hingga motivasi para atlet.

Karena itu, perdebatan yang muncul hari ini bukan semata soal individu, melainkan soal keberlanjutan dan kualitas organisasi. Publik berharap, apa pun keputusan yang diambil ke depan benar-benar mempertimbangkan kepentingan olahraga secara lebih luas.

Sebab pada akhirnya, KONI tidak dibangun untuk bertahan dalam keterbatasan, melainkan untuk melahirkan prestasi.

(Moo/Red)

error: Content is protected !!