NEWS  

Enam Nama, Satu Kursi: Peta Perebutan Sekda Sumenep

SUMENEP NET88.CO — Seleksi terbuka Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep memasuki fase penentuan. Dari sejumlah nama yang sempat beredar, kini tersisa enam birokrat senior dengan latar belakang, gaya kepemimpinan, dan jalur karier yang berbeda. Enam nama ini bukan sekadar kandidat administratif, melainkan representasi arah birokrasi yang akan dipilih Sumenep ke depan.

Sekda bukan jabatan teknis semata. Ia adalah poros kendali pemerintahan daerah: penerjemah visi politik kepala daerah ke dalam kerja birokrasi, penghubung antar-organisasi perangkat daerah, sekaligus penjaga ritme dan disiplin aparatur sipil negara. Karena itu, peta enam besar ini menarik dibaca bukan dari siapa yang paling populer, melainkan dari apa yang mereka wakili.

Achmad Dzulkarnain, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, datang dengan modal panjang di sektor sosial, kebangsaan, serta stabilitas politik. Pengalamannya di bidang perlindungan sosial dan relasi negara–masyarakat membentuk tipologi birokrat yang menekankan harmoni dan ketertiban, sebuah kualitas yang kerap dibutuhkan di tengah dinamika politik lokal.

BACA JUGA :
Silaturahmi Kapolsek Larangan ke Ponpes Al Abror

Dari jalur manajerial sistem besar, Agus Dwi Saputra membawa pengalaman panjang di sektor pendidikan—organisasi dengan jumlah sumber daya manusia besar dan anggaran signifikan. Mengelola pendidikan berarti berurusan dengan kebijakan jangka panjang, distribusi sumber daya, serta tekanan publik yang konstan.

Sementara itu, Chainur Rasyid dikenal sebagai teknokrat lapangan. Pengalamannya di sektor perindustrian, perdagangan, hingga ketahanan pangan membentuk pemahaman birokrasi dari sisi implementasi kebijakan. Ia tumbuh dari urusan konkret: harga, distribusi, dan kebutuhan dasar masyarakat.

Di jalur yang lebih dekat dengan pusat kendali pemerintahan, Ferdiansyah meniti karier di lingkar strategis birokrasi. Pengalamannya di Diskominfo, Setda, hingga Badan Pendapatan Daerah menempatkannya sebagai figur yang memahami komunikasi kebijakan, manajemen administrasi, dan relasi antar-lembaga.

BACA JUGA :
Dua Spesialis Pelaku Pencurian Mobil PicK Up Berhasil Dibekuk Anggota Satreskrim Polres Pasuruan Kota, Dua Pelaku Lainya Masuk DPO

Moh. Iksan, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, mencatat fase penting kepemimpinan saat memimpin Disbudporapar. Di sektor yang sarat kepentingan—budaya, pariwisata, pemuda, dan olahraga—ia dikenal mampu mengonsolidasikan beragam aktor. Kini, di sektor pendidikan, ia memimpin urusan strategis yang menuntut konsistensi dan ketahanan kebijakan.

Adapun Abd Rahman Riadi menempuh jalur yang relatif sunyi. Dengan latar akademik doktor administrasi publik dan pengalaman di perencanaan, kebencanaan, hingga penanaman modal, ia tampil sebagai teknokrat yang bertumpu pada kerja senyap, bukan sorotan.

Tahapan penulisan makalah dan wawancara akan menjadi arena uji sesungguhnya. Di titik itu, para kandidat tak lagi diuji pada masa lalu mereka, melainkan pada cara membaca masa depan birokrasi Sumenep—apakah berani berbenah atau memilih bertahan.

BACA JUGA :
9 Pengedar Narkotika Berhasil Diringkus Satnarkoba Polresta Madiun

Pada akhirnya, seleksi Sekretaris Daerah bukan sekadar soal siapa yang paling rapi berkasnya atau paling fasih mempresentasikan visi. Ia adalah cermin keberanian politik kepala daerah: berani memilih yang kompeten meski tak selalu nyaman, atau kembali pada pola aman yang sudah lama dikenal.

Enam kandidat kini berdiri di garis akhir. Nama yang kelak ditetapkan sebagai Sekda akan berbicara lebih lantang daripada pidato mana pun. Ia akan menjadi jawaban atas satu pertanyaan mendasar: apakah meritokrasi benar-benar dijadikan fondasi, atau hanya slogan yang bergema selama proses seleksi berlangsung.

Penulis : Asmuni Bara