NEWS  

“Silakan yang Pintar Matematikanya Hitung Ini untuk Tiga Hari!”SPPG Legung Barat – Yayasan At-Ta’awun Disorot

SUMENEP NET88.CO – Sindiran keras datang dari salah satu wali murid di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Ia secara terbuka menantang publik menghitung nilai paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan SPPG Legung Barat di bawah naungan Yayasan At-Ta’awun.

“Silakan yang pintar matematikanya hitung ini untuk tiga hari!” tulisnya dalam status yang kini ramai diperbincangkan.

Paket yang diterima siswa untuk jatah tiga hari tersebut berisi sari gandum, jeruk, pisang, kurma empat butir, telur dua butir, serta satu botol susu kecil. Berdasarkan estimasi harga pasar yang beredar di kalangan wali murid, total nilai paket tersebut diperkirakan sekitar Rp16.200 untuk tiga hari atau sekitar Rp5.400 per hari.

BACA JUGA :
Polda Jatim dan Perguruan Pencak Silat Tanda Tangani Kesepakatan Jaga Kamtibmas

Angka itu kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah nilai tersebut sudah sesuai dengan standar biaya MBG per anak per hari? Jika anggaran yang dialokasikan pemerintah pusat lebih tinggi dari estimasi harga riil di lapangan, maka transparansi menjadi tuntutan utama.

BACA JUGA :
Hadiri Muscab IDI, Molen Ajak Perkuat Sinergi Berikan Pelayanan Kesehatan di Kota Beribu Senyuman

Program MBG sendiri merupakan kebijakan nasional pemerintahan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka yang dibiayai melalui APBN. Dengan menggunakan uang negara, publik menilai setiap rupiah harus bisa dijelaskan secara terbuka.

Sejumlah wali murid di Batang-Batang berharap pihak SPPG Legung Barat dan Yayasan At-Ta’awun segera memberikan klarifikasi terkait standar biaya, komponen operasional, serta mekanisme pengadaan bahan makanan.

BACA JUGA :
Peduli Korban Laka, Kasatlantas Situbondo Bagi Rezeki

“Kalau memang tidak ada yang ditutup-tutupi, buka saja rincian anggarannya,” ujar salah satu orang tua siswa.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pengelola SPPG Legung Barat. Masyarakat kini menunggu jawaban, apakah polemik ini hanya soal persepsi, atau ada persoalan serius dalam pengelolaan anggaran program peningkatan gizi tersebut.
Moo/Red

error: Content is protected !!