SUMENEP NET88.CO –
Kontestasi pengisian jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep kian menarik perhatian publik. Ia tak lagi sekadar proses administratif berbasis seleksi dan asesmen, tetapi menjelma menjadi arena adu pengaruh antara dua simbol kekuatan: “Persu” sebagai representasi kekuatan lokal, dan Persija Jakarta sebagai metafora jaringan politik besar yang disebut memiliki daya tekan luas.
Di ruang publik, berkembang narasi bahwa “Persija” memiliki kontribusi besar dalam mengantarkan “Persu” meraih posisi kepemimpinan daerah. Jika asumsi itu benar, maka perebutan kursi Sekda hari ini bisa dibaca sebagai ujian: apakah kekuatan lokal sepenuhnya mandiri dalam menentukan arah birokrasi, atau tetap berada dalam orbit pengaruh yang lebih besar?
Dari tiga kandidat yang mencuat, dua di antaranya disebut dekat dengan “Persija”. Sementara satu lainnya berada dalam lingkar “Persu”, meski tetap memiliki irisan hubungan dengan kekuatan besar tersebut. Komposisi ini memunculkan persepsi bahwa pertarungan tidak benar-benar seimbang, melainkan berada dalam satu garis pengaruh yang sama—hanya berbeda titik kedekatan.
Namun perlu ditegaskan, jabatan Sekda bukanlah trofi politik. Ia adalah motor penggerak birokrasi, koordinator seluruh organisasi perangkat daerah, dan penjaga stabilitas administrasi pemerintahan. Jika prosesnya terlalu kental dengan tarik-menarik kepentingan, dampaknya bisa terasa hingga ke internal ASN dan kualitas pelayanan publik.
Di sinilah pentingnya transparansi dan profesionalisme panitia seleksi. Publik menunggu proses yang objektif, berbasis merit system, bukan sekadar hasil kompromi kekuatan. Sebab legitimasi Sekda terpilih sangat ditentukan oleh persepsi publik terhadap bersih atau tidaknya proses.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih harus mampu berdiri di atas semua kepentingan. Ia tidak boleh menjadi representasi “Persu” semata, atau simbol “Persija” belaka. Ia harus menjadi milik seluruh masyarakat Sumenep.
Karena dalam adu kekuatan ini, yang semestinya menang bukan satu kubu, melainkan kepentingan rakyat dan masa depan daerah.
Penulis : Asmuni Bara

