NEWS  

Hainur Rasyid Disebut Kuda Hitam Bursa Calon Sekda Sumenep

SUMENEP NET88.CO –
Bursa Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep selalu menghadirkan pola yang berulang: tarik-menarik kepentingan politik, kalkulasi kekuasaan, dan pertaruhan stabilitas birokrasi. Namun dalam riuh itu, kerap muncul satu figur yang tidak banyak berbicara, tetapi diam-diam bergerak. Tahun ini, nama itu mengarah pada Chainur Rasyid.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sumenep tersebut bukan figur yang gemar memainkan panggung publik. Ia tidak rajin membangun narasi pencitraan, apalagi menjadi pusat perdebatan politik. Namun justru dari ruang yang sunyi itu, sejumlah kalangan birokrasi mulai meliriknya sebagai kuda hitam dalam kontestasi Sekda.

Istilah kuda hitam bukan sekadar romantisme kompetisi. Dalam tradisi birokrasi daerah, figur seperti Chainur sering muncul sebagai alternatif ketika tarik-menarik elite membutuhkan sosok yang relatif netral, teknokratis, dan tidak membawa beban konflik kepentingan yang terlalu berat.

Selama memimpin sektor ketahanan pangan, Chainur bekerja di wilayah yang jauh dari sorotan, tetapi menentukan stabilitas sosial masyarakat. Ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi beras atau distribusi pupuk. Ia menyentuh langsung daya beli masyarakat, kesejahteraan petani, hingga stabilitas ekonomi daerah.

BACA JUGA :
Universitas Terbuka Aceh bersama Pokjar Se Aceh Gelar Rakerda 2023

Di sektor inilah, kemampuan seorang birokrat diuji secara nyata. Ketika harga komoditas melonjak, masyarakat tidak bertanya tentang konsep pembangunan. Mereka bertanya tentang harga beras di pasar. Ketika panen gagal, masyarakat tidak peduli pada jargon program. Mereka menuntut solusi konkret.

Chainur dikenal sebagai birokrat yang lebih nyaman bekerja dalam kerangka teknokrasi ketimbang retorika. Ia membangun komunikasi dengan kelompok tani, menjaga koordinasi distribusi pangan, serta menavigasi berbagai tekanan kebijakan pusat yang sering kali berubah cepat.

Gaya kepemimpinannya cenderung kalem. Ia jarang tampil dengan pernyataan kontroversial. Dalam banyak forum, ia lebih dikenal sebagai pendengar dibanding orator. Namun dalam birokrasi, karakter seperti ini sering menjadi pelumas yang menjaga mesin pemerintahan tetap berjalan tanpa gesekan berlebihan.

Modal komunikasi Chainur juga kerap disebut sebagai keunggulan tersendiri. Sikap murah senyum yang melekat padanya bukan sekadar gestur personal. Dalam kultur birokrasi yang kerap hierarkis, pendekatan humanis justru menjadi jembatan penting untuk membangun koordinasi lintas organisasi perangkat daerah.

BACA JUGA :
Polemik Puskesmas Kapongan, Ketum Perkasa : Jangan Hanya Menyalahkan Nakes, Kapus Wajib Dievaluasi

Tantangan jabatan Sekda sendiri jauh melampaui fungsi administratif. Sekda adalah konduktor yang mengatur tempo kerja birokrasi. Ia harus mampu menerjemahkan visi kepala daerah menjadi program konkret, sekaligus menjaga ritme pelaksanaan pembangunan agar tidak tersandera konflik internal.

Dalam konteks politik birokrasi Sumenep, figur Sekda sering menjadi titik keseimbangan antara kepentingan teknokrasi dan realitas politik. Figur yang terlalu politis berpotensi menimbulkan resistensi internal. Sebaliknya, figur yang terlalu teknis kerap kesulitan membaca dinamika kekuasaan.

Di sinilah posisi Chainur menjadi menarik. Ia berdiri di persimpangan antara dua kutub tersebut. Pengalamannya di sektor strategis memberi legitimasi teknis, sementara posisinya yang relatif jauh dari pusaran konflik politik membuatnya dianggap lebih akomodatif.

BACA JUGA :
Jelang Lebaran, Pemprov Babel Terus Bersinergi

Meski demikian, jalan menuju kursi Sekda tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh rekam jejak profesional. Proses seleksi terbuka memang menuntut kompetensi manajerial, integritas, dan rekam kinerja. Namun dalam praktik pemerintahan daerah, keputusan akhir sering kali juga dipengaruhi kalkulasi stabilitas politik.

Chainur mungkin tidak menjadi figur paling bising dalam bursa calon Sekda. Namun sejarah birokrasi daerah menunjukkan, figur yang bergerak senyap justru sering melaju kencang menjelang garis akhir.

Apakah Sumenep membutuhkan Sekda dengan karakter pekerja teknokratis atau figur dengan daya manuver politik yang kuat, akan sangat menentukan arah birokrasi ke depan. Jika pilihan jatuh pada stabilitas kerja dan konsistensi pelaksanaan program, maka nama Chainur Rasyid berpotensi menjadi kejutan yang tidak sepenuhnya mengejutkan.

Dalam politik birokrasi, kuda hitam sering kali tidak datang untuk membuat sensasi. Ia datang untuk memenangkan perlombaan ketika pesaing sibuk saling menyalip sebelum garis finis terlihat.

Penulis : Asmuni Bara