SUMENEP NET88.CO –
Foto gerbang ini hanyalah ilustrasi. Tetapi kadang ilustrasi justru lebih jujur daripada pidato panjang.
Gerbang megah bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Sumenep, Kota Wisata Ludruk” berdiri gagah di pintu masuk kota. Ornamen emasnya berkilau. Patung kuda bersayap di puncaknya seperti simbol kejayaan yang hendak dipamerkan kepada siapa pun yang melintas.
Namun di tengah gemerlap itu, publik membaca makna lain.
Tulisan “Kota Wisata Ludruk” hari ini terasa seperti satire yang tidak disengaja. Bukan karena kesenian ludruknya—budaya itu justru membanggakan. Tetapi karena cara pemerintahan berjalan makin menyerupai panggung pertunjukan: penuh dialog, penuh drama, penuh sorot kamera.
Megah di gerbang. Ramai di panggung.
Tetapi arah besar pembangunan terasa samar.
Pemerintah daerah tampak begitu percaya diri memainkan peran. Setiap program diluncurkan dengan narasi optimistis. Setiap kritik dibalas klarifikasi. Setiap polemik dihadapi dengan konferensi pers. Mikrofon aktif, dokumentasi lengkap, publikasi massif.
Namun pertanyaan sederhana belum juga terjawab:
Apa capaian monumental yang benar-benar mengubah wajah Sumenep?
APBD setiap tahun disahkan dengan angka fantastis. Kalender kegiatan padat oleh festival, seremoni, peringatan hari besar, launching program, dan parade event wisata. Media sosial pemerintah tak pernah sepi unggahan.
Panggung hidup.
Lampu menyala.
Tepuk tangan terdengar.
Tetapi pembangunan bukan soal seberapa meriah acara digelar.
Event memang penting.
Event bisa menggairahkan ekonomi sesaat.
Event bisa menarik kunjungan.
Namun pembangunan yang serius menuntut lebih dari sekadar keramaian tahunan.
Apakah struktur ekonomi daerah berubah?
Apakah sektor produktif tumbuh signifikan?
Apakah pelayanan publik makin cepat dan transparan?
Apakah angka kemiskinan turun drastis?
Apakah lapangan kerja permanen bertambah nyata?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih samar, maka yang berkembang bukan transformasi—melainkan kosmetik kebijakan.
Sumenep memiliki potensi luar biasa: wilayah kepulauan strategis, sumber daya alam, warisan budaya kuat, dan masyarakat yang ulet. Tetapi potensi tanpa peta jalan hanya menjadi bahan pidato. Anggaran tanpa arah hanya menjadi rutinitas tahunan.
Lebih mengkhawatirkan, kritik publik kerap diposisikan sebagai ancaman. Media yang tajam dianggap menyudutkan. Warga yang bertanya dinilai terlalu politis. Padahal justru di situlah letak demokrasi bekerja.
Transparansi bukan gangguan.
Ia adalah fondasi legitimasi.
Hari ini publik berhak bertanya dengan nada lebih tegas:
Sumenep mau dibawa ke mana?
Menjadi poros maritim yang benar-benar terintegrasi?
Menjadi destinasi wisata kelas nasional yang sistematis?
Atau sekadar menjadi kabupaten dengan kalender event terpadat di Madura?
Jika ada grand design, tunjukkan indikatornya. Jika ada roadmap, buka ke publik. Jangan hanya menyodorkan slogan dan baliho berwarna cerah.
Pemerintahan bukan panggung ludruk. Ia bukan soal siapa paling fasih beretorika atau paling sering tampil di depan kamera. Ia soal keberanian mengambil keputusan strategis—meski tidak populer—demi dampak jangka panjang.
Sumenep tidak kekurangan seremoni.
Yang terasa kurang adalah terobosan.
Rakyat bukan penonton yang bisa terus disuguhi babak baru sementara konflik lama tak pernah selesai. Mereka menunggu bukti, bukan naskah.
Dan jika pemerintah terus lebih sibuk merawat citra daripada menyelesaikan substansi, maka jangan heran jika istilah “Kabupaten Ludruk” bukan lagi satire—melainkan penilaian publik yang mengeras.
Sejarah tidak mencatat siapa paling sering konferensi pers.
Sejarah mencatat siapa yang benar-benar meninggalkan perubahan.
Gerbang itu tetap berdiri megah.
Pertanyaannya: apakah pembangunan di belakangnya sama megahnya?
Penulis : Asmuni Bara

