MAGETAN — Net88.co — Tradisi adat Labuhan Sarangan kembali digelar di Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jumat (16/1/2025). Ritual tahunan yang sarat makna ini bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi simbol harmoni antara pelestarian adat leluhur dan pengembangan sektor pariwisata daerah.
Sejak pagi, ratusan warga dan wisatawan memadati kawasan telaga untuk menyaksikan prosesi sakral larung tumpeng ke tengah telaga. Acara dilengkapi dengan pertunjukan tari tradisional, kirab budaya, serta makan bersama yang melibatkan masyarakat setempat.
Salah satu wisatawan asal luar daerah, Angga mengaku sengaja datang ke Sarangan untuk menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Saya biasanya ke Sarangan hanya untuk liburan biasa. Tapi melihat Labuhan Sarangan secara langsung itu berbeda, terasa kental budaya dan sangat menarik,” ujarnya.
Antusiasme serupa juga dirasakan warga lokal. Maryo, warga asli Sarangan, menyebut Labuhan Sarangan tahun ini terasa lebih hidup dan ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini pengunjungnya banyak sekali. Dari acara adat sampai suasana wisatanya benar-benar ramai dan meriah,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Bupati Magetan Nanik Sumantri menegaskan bahwa Labuhan Sarangan merupakan aset budaya yang memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pariwisata.
“Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Sarangan, tetapi milik Magetan dan bangsa Indonesia. Labuhan Sarangan menjadi kekuatan budaya sekaligus daya tarik wisata yang harus terus kita jaga,” kata Nanik.
Ia juga menambahkan bahwa pengakuan Labuhan Sarangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) pada tahun 2025 menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlanjutannya.
“Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah yang terus kami dorong,” tambahnya.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan setiap tahunnya, Labuhan Sarangan dinilai mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus memperkuat identitas Magetan sebagai daerah wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. (Dk)







