Situbondo, NET88.CO – Di sebuah rumah yang tampak akan roboh dengan dinding papan kalsiboard bekas dan kayu penyangga keropos, Tampak 5 (Lima) orang anggota keluarga yang menjalani hidup keseharian dengan kondisi memprihatinkan tepatnya di Dusun Ardani Desa Peleyan Kecamatan Kapongan.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media net88. Bahwa terdapat sejumlah keluarga di dusun Ardani Desa Peleyan ini membutuhkan perhatian serius dan bantuan sebab selain hidup dirumah yang dinilai sangat tidak layak juga langkah untuk memenuhi kebutuhan keseharian seringkali menjumpai kesulitan.
Pasalnya Kepala Keluarga bernama lengkap “Tutun” (53) dan Istrinya bernama Suni (56), diketahui Tutun sebagai suami dan Kepala Keluarga telah sakit bertahun-tahun bahkan di vonis gagal ginjal dan harus rutin melakukan cuci darah meski sempat sekali cuci darah tapi pada akhirnya memutuskan tidak melakukan cuci darah lagi sebab tidak ada ongkos pulang pergi ke rumah sakit.
Menurut Pak Tutun sebagai Kepala Keluarga mengaku telah sakit cukup lama, mulai dari sebagian anggota fisiknya melemah, penyakit asam urat hingga terkonfirmasi menderita gagal ginjal yang mengharuskan rutin cuci darah.
“Saya pernah melakukan cuci darah sekali tapi setelah itu tidak melakukannya lagi karena tidak ada biaya dan kendaraan pulang pergi ke rumah sakit, sebenarnya saya tidak bisa lagi bekerja meski harus beberapa waktu memaksakan diri bekerja menjadi buruh seadanya untuk bisa makan seadanya.l, tapi dengan kondisi begini saya lebih sering dirumah berbaring dan duduk saja”. Terang pak Tutun
Untuk mencukupi dan menopang kebutuhan sehari-hari lima anggota keluarganya maka Suni sebagai istrinya memberanikan diri untuk bekerja sebagai buruh tani harian.
“Saya berusaha bisa bekerja agar ada untuk dimakan sekeluarga, kadang dibantu randi anak kedua saya, karena kondisi pak tutun sudah sakit begitu tapi kami serba kekurangan sebab saya bekerja sebagai buruh tidak bisa setiap hari karena menunggu ada orang yang mengajak”. Ujar Suni
Diketahui Pasangan Pak Tutun dan Ibu Suni memiliki 2 orang anak, Anak yang pertama sudah berkeluarga dan ikut istrinya ke luar desa yang informasinya juga secara ekonomi juga menengah kebawah.
“Satu lagi anak saya putus sekolah sejak lulus SMP karena saya tidak ada biaya, uang saku anak untuk makan, sepeda untuk bersekolah lagi, ditambah dengan kondisi keluarga yang begini, yang penting kami bisa makan sudah bersyukur meski seadanya dan terkadang pinjam hingga diberi tetangga sekitar”. Tambah ibu suni.
Disamping itu menurut Zainiya selaku warga dusun Ardani membenarkan kondisi keluarga pak tutun sangat memprihatinkan, termasuk pula di anggota keluarga yang menempati rumah tidak layak ini ada orang tuanya yang juga sudah Lanjut Usia (lansia), keduanya bahkan diketahui sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja lagi hanya bergantung ke Pak Tutun dan Ibu suni dengan segala kekurangan dan keterbatasan.
“Kedua orang tua pak tutun dan ibu suni sudah lansia dan salahsatunya cukup lama sakit dan benar menggantungkan hidupnya ke pak tutun dan ibu suni, sementara mereka kondisinya begini bisa dilihat sendiri”. Keluhnya saat berada dirumah pak tutun sekeluarga Rabu (13/05).
“Kondisinya sangat memperihatinkan bahkan keseharian untuk sekedar bisa makan terkadang harus menunggu pemberian tetangga sekitar”. Tambahnya
Lebih lanjut dari informasi yang dihimpun net88 bahwa lebih mirisnya para Keluarga itu tidak lagi menerima Bantuan apapun baik Bantuan Sosial (Bansos) PKH, Sembako meski sebelumnya ibu suni pernah dapat meskipun saat ini mengaku kenapa tidak menerima lagi? Selain bansos, anggota keluarga itu termasuk orang tuanya belum ada yang menerima bantuan.
Selanjutnya kepada yang terhormat bapak/ibu para pemangku kebijakan dan pemerintah yang berwenang dapat menyaksikan langsung turun ke lokasi yang berada di Dusun Ardani Desa Peleyan Kecamatan Kapongan, lihatlah dan pastikan sendiri.
Yang terhormat Bapak Presiden Prabowo Subianto, Ibu Gubernur Jawa Timur, Mas Bupati Situbondo, Pak Tutun dan Ibu Suni merupakan Warga Negara Indonesia yang berjuang bertahan hidup dengan segala keterbatasan dan kekurangan.
Sampai berita ini dirilis belum ada pihak pemerintah manapun yang berkunjung kelokasi, hanya beberapa minggu lalu diakui oleh pihak keluarga bahwa ada anggota DPRD Situbondo yang mengusulkan rumahnya untuk dibangun program Rumah Tidak Layak Huni.

