NEWS  

Kajari Pamekasan: Tanpa Media, Kejaksaan Tak Bisa Dekat Dengan Rakyat

PAMEKASAN, NET88.CO — Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan buka suara soal pentingnya sinergi dengan awak media. Hal itu disampaikan dalam silaturahmi bersama 9 organisasi wartawan di Pamekasan.

“Terima kasih kepada para awak media. Selama 10 bulan saya menjabat sejak November 2025, baru kali ini kita ketemu. Tanpa media, kita sebagai penegak hukum tidak bisa dekat dengan masyarakat. Keberhasilan kejaksaan pasti lewat media juga,” ujar Kajari.

Ia mengaku sengaja mengenalkan seluruh Kasi, bukan cuma Kasi Intel dan Pidsus yang sering didemo.
“Padahal Datun, Pidum juga banyak keberhasilan, seperti pemulihan keuangan negara, gugatan Pemda. Sayang kalau tidak terekspos. Ke depan, penegakan hukum di Pamekasan harus didukung media,” tegasnya.

BACA JUGA :
PJI Indramayu Resmi Dikukuhkan, Ketua Umum Ingatkan Penegak Hukum Berpijak pada UU Pers

Kajari juga minta maaf jika selama ini slow respon saat di-WA.
“Sepanjang informasi tidak dikecualikan, pasti kami berikan,” ungkapnya.

Ia menegaskan kejaksaan tidak anti kritik. SOP tetap jelas, juru bicara utama adalah Kajari dan Kasi Intel, namun saat doorstop jaksa yang tangani perkara boleh bicara.

“Mohon dimengerti kalau jaksa di lapangan jawab ‘nanti di kantor’. Mereka fokus sidang, kejar perkara lain, urus barang bukti,” jelasnya.

BACA JUGA :
Mengenal Okta Saputra Videografer asal Lampung

Ke depan, Kajari ingin ada agenda rutin ngopi bareng.
“Dulu saya punya program Ngopi Jawara — Ngobrol Pihak Jaksa, Wartawan, Masyarakat. Kalau bisa sebulan atau dua bulan sekali kita ngumpul. Jumat pagi paling enak, karena Jumat kejaksaan WFH 50 persen imbas krisis BBM,” katanya.

Soal penanganan perkara yang dinilai lambat, ia menegaskan semua lewat ekspos berjenjang.
“Bukan lama, tapi kami harus ekspos di hadapan saya, lalu ke Kejati. Tidak bisa putuskan sendiri. Insyaallah kami masih tegak lurus. Tidak ada perkara yang kami main-mainkan,” tegasnya.

BACA JUGA :
Kisruh Dana Guyub Rukun Desa Wates Panekan Berlanjut, Dugaan Intimidasi terhadap Ketua RT Mencuat

Diketahui, Kajari sendiri putra Jawa-Madura, bapak asal Sampang, ibu Jombang. Mengabdi 21 tahun sejak 2005, baru kali ini dinas di Jatim setelah berkeliling dari Medan, Kalteng, Jakarta, Sulbar, Papua Barat, Sumbar, Jabar, dan Kejagung. Keluarga tinggal di Bogor, orang tua di Surabaya.

“Saya KW, katanya. Begitu lihat SK Pamekasan, oh iya saya Jawa-Madura. Mohon dukungan teman-teman media,” pungkasnya.(Jo)

error: Content is protected !!