SUMENEP, NET88.CO — Peringatan Hari Gizi Nasional di Kabupaten Sumenep tahun ini menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah tersebut mendapat sorotan publik menyusul laporan dugaan menu basi, lauk berulat, dan kualitas bahan pangan yang diragukan di beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selain itu, muncul pula dugaan mark up harga bahan makanan yang memunculkan pertanyaan terkait tata kelola anggaran program. Dugaan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa tujuan program—yaitu memperbaiki gizi anak sebagai investasi jangka panjang menuju generasi emas—bisa terganggu.
Satgas MBG Kabupaten Sumenep, yang diketuai oleh Sekretaris Daerah (Sekda), memiliki kewenangan koordinasi lintas OPD, pengawasan mutu makanan, dan pengendalian anggaran. Satgas ini diharapkan segera melakukan langkah konkret, termasuk inspeksi mendadak ke SPPG, evaluasi kualitas makanan, dan audit penggunaan anggaran.
Sejumlah orang tua siswa mengingatkan, pengawasan rutin harus menjadi prioritas agar anak-anak benar-benar menerima makanan sehat dan bergizi. “Program ini untuk anak-anak, bukan sekadar administrasi. Standar mutu harus terjaga setiap hari,” kata seorang wali murid.
Pengamat kebijakan publik menekankan pentingnya keterlibatan pihak independen, seperti ahli gizi dan instansi pengawas internal, untuk memverifikasi kualitas makanan secara berkala. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan MBG.
Hingga saat ini, publik masih menunggu pernyataan resmi Satgas MBG mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan. Hari Gizi Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan program bukan diukur dari serapan anggaran semata, tetapi dari kualitas gizi yang benar-benar diterima anak-anak.
Dengan integritas, ketegasan, dan transparansi, program MBG dapat tetap menjadi instrumen penting dalam menyiapkan generasi Sumenep yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Moo/Red

