SUMENEP NET88.CO – Kabupaten Sumenep sebagai daerah kepulauan dengan potensi hasil laut yang melimpah, dinilai belum mampu mengoptimalkan kekayaan tersebut dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat SPPG.
Di tengah melimpahnya hasil tangkapan nelayan lokal, menu MBG di Sumenep justru disebut-sebut belum berpihak pada potensi daerah. Bahkan, hasil laut nelayan Sumenep terasa diabaikan dalam menu keseharian MBG.
Sejumlah pihak menyoroti bahwa menu harian MBG cenderung monoton dan tidak lepas dari bahan pangan seperti telur, tahu, tempe, dan ayam. Bahkan, tahu dan tempe seakan menjadi menu “wajib” yang hampir selalu hadir setiap hari, tanpa variasi signifikan dari ikan atau produk hasil laut lainnya.
Padahal, sebagai wilayah yang dikelilingi laut dan memiliki banyak kecamatan kepulauan, ikan segar seharusnya menjadi komoditas utama dalam pemenuhan gizi siswa.
Selain mudah didapat, ikan juga memiliki kandungan gizi yang sangat baik bagi anak, mulai dari protein berkualitas tinggi, omega-3, hingga berbagai vitamin yang mendukung perkembangan otak dan daya tahan tubuh.
“Ini ironis. Daerah kepulauan, hasil laut melimpah, tapi justru tidak dimanfaatkan secara maksimal. Nelayan seperti tidak tersentuh oleh program ini,” ungkap salah satu pemerhati kebijakan publik di Sumenep.
Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan semangat kebijakan nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong penggunaan produk lokal guna memperkuat ekonomi masyarakat.
Alih-alih menyerap hasil tangkapan nelayan, pelaksanaan MBG di daerah justru lebih bergantung pada pasokan dari produsen besar yang dinilai lebih praktis secara distribusi.
Minimnya keterlibatan nelayan dalam rantai pasok program MBG juga berdampak pada perekonomian masyarakat pesisir yang seharusnya bisa mendapatkan manfaat langsung.
Situasi ini memunculkan dorongan agar ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Sumenep, khususnya dalam hal penyusunan menu yang lebih berbasis potensi lokal.
Dengan memanfaatkan hasil laut sebagai bagian utama menu, program MBG tidak hanya mampu meningkatkan kualitas gizi siswa, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi nelayan di wilayah kepulauan.
Moo/Red

