BPOM Rilis Sirup Obat Aman dari Cemaran EG dan DEG, Masyarakat Bisa Gunakan Sesuai Aturan Pakai

Jakarta||Net88

Cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) pada sirup obat yang ditengarai menjadi penyebab gangguan ginjal akut pada ratusan anak di Indonesia masih terus diselidiki pemerintah. Dari 102 obat yang digunakan pasien, BPOM merilis 30 obat yang dinyatakan tidak mengandung cemaran EG dan DEG sedangkan tiga produk mengandung EG dan DEG melebihi ambang batas aman. Ketiga produk ini termasuk dalam lima produk yang telah dirilis BPOM pada 20 Oktober 2022 lalu, sedangkan 69 produk sisanya masih dalam proses pengujian.

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menyebut tengah mendalami seluruh sirup obat yang beredar di Indonesia. Berdasarkan data registrasi BPOM, sebanyak 133 sirup obat aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai karena tidak menggunakan pelarut propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol. Untuk memastikan keamanan sirup obat lainnya, BPOM juga telah melakukan sampling dan pengujian 13 sirup obat (21 bets) yang dinyatakan aman aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai .

BACA JUGA :  Pembangunan Gedung Pusat Oleh Oleh di Kota Kulon Dinilai Kesampingkan Keselamatan Kerja

Cemaran EG dan DEG diduga berasal dari penggunaan pelarut propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol. Keempat pelarut ini tidak dilarang, selama proses produksi terjaga dari cemaran EG dan DEG berlebihan. Untuk itu, standar mengatur ambang batas maksimal yang diperbolehkan untuk EG dan DEG sebesar 0,5 mg/kg berat badan per hari.

“Selama itu ada di batas minimal, bisa ditolerir oleh badan kita, maka dianggap aman. Tentu harus sesuai juga cara penggunaan obat, dosis, dan lamanya penggunaan obat tersebut,” jelas Kepala BPOM dalam Konferensi Pers di Kantor BPOM, Minggu (23/10/2022).

BACA JUGA :  Meminimalisir Pelanggaran, Kapolres Pamekasan Sidak Gaktibplin Anggota

Sementara itu, Guru Besar Farmakokimia ITB, Prof. Rahmana Emran Kartasasmita mengungkapkan paparan EG dan DEG melewati ambang keamanan tidak dimaknai akan keracunan, melainkan berisiko mengalami gangguan kesehatan, sehingga perlu ada analisis lebih mendalam terkait hal ini. Penggunaan keempat pelarut, termasuk di negara maju, dimungkinkan dengan ambang batas tertentu.

“Jika diperiksa pada produk akhir bisa saja ada kandungannya. Bukan tidak memenuhi syarat, tapi konsentrasinya dihitung. Bukan menegatifkan karena semua negara sepertinya tidak akan mampu,” ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah mengambil kebijakan konservatif dengan mengedepankan aspek kehati-hatian berupa pelarangan penggunaan sirup obat karena dikaitkan kasus gangguan ginjal. Namun dengan adanya rilis BPOM ini, masyarakat dapat menggunakan kembali sejumlah sirup obat yang telah dinyatakan aman. “Daftar obat yang dirilis BPOM bisa dicermati dan bisa digunakan karena sudah ada jaminan tidak lagi berpotensi sebabkan gangguan ginjal. Apa lagi gangguan ginjal itu belum bisa dipastikan akibat cemaran EG dan DEG,” jelas Guru Besar Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati yang turut hadir secara online dalam konferensi pers.

BACA JUGA :  Ratusan Bantuan Pangan Tidak Tersalurkan di Mimbaan Panji, Kinerja PT. Yasa Patut Dipertanyakan

Pengawasan akan terus dilakukan BPOM di seluruh wilayah Indonesia, termasuk pengawalan proses penarikan kelima produk sirup obat yang mengandung EG dan DEG melebihi ambang batas aman. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan membeli obat di apotek, toko obat berizin, puskesmas, dan rumah sakit.

“Kami juga mendorong tenaga kesehatan dan industri farmasi secara aktif melaporkan efek samping obat kepada Pusat Farmakovigilans/MESO Nasional melalui aplikasi e-MESO Mobile,” tutup Kepala BPOM

vvvv