SUMENEP NET88.CO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep kembali diterpa persoalan serius. Setelah sebelumnya muncul sejumlah temuan menu tidak layak konsumsi di beberapa kecamatan, kali ini lauk ikan dan ayam MBG di SD Negeri Talang 2, Desa Talang, Kecamatan Saronggi, diduga berulat.
Menu MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Syita Ananta, Kecamatan Saronggi. Temuan ini menambah panjang daftar persoalan MBG di Sumenep yang belakangan menjadi sorotan publik.
Tokoh masyarakat Desa Talang, Bambang Supratman, S.H., menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia menilai, berulangnya temuan menu MBG bermasalah menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan program yang menyasar anak-anak sekolah.
“Ini bukan kejadian pertama di Sumenep. Di kecamatan lain sudah ada temuan menu bermasalah, sekarang terulang lagi di Saronggi. Program sebesar ini seharusnya diawasi ketat, karena menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak,” ujar Bambang Supratman, S.H., Senin (26/1/2026).
Menurut Bambang, keberadaan ulat pada lauk ikan dan ayam tidak bisa dianggap sebagai kelalaian kecil. Ia menegaskan bahwa MBG adalah program strategis nasional dengan anggaran besar, sehingga setiap penyedia wajib menjamin standar kebersihan dan kelayakan konsumsi.
Sebelumnya, publik Sumenep dihebohkan oleh temuan ulat belatung pada sayuran MBG di Kecamatan Dungkek, menu MBG yang dinilai tidak layak konsumsi di Kecamatan Ganding, serta keluhan kualitas menu MBG yang dianggap tidak sesuai standar gizi. Rentetan kejadian tersebut memunculkan dugaan kuat adanya masalah pengawasan yang berulang dan bersifat sistemik.
Di SDN Talang 2 Saronggi, paket MBG dari SPPG Syita Ananta dibagikan seperti hari biasa. Namun sebelum dikonsumsi seluruh siswa, guru dan siswa lebih dulu menemukan kejanggalan pada lauk yang disajikan. Pihak sekolah kemudian menghentikan pembagian makanan dan mengimbau siswa untuk tidak melanjutkan makan.
Meski tidak dilaporkan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan, kejadian ini dinilai sebagai peringatan serius terhadap tata kelola dan pengawasan MBG di Kabupaten Sumenep.
“Kalau tidak ada evaluasi menyeluruh, kejadian seperti ini berpotensi terus berulang dan merusak kepercayaan masyarakat,” tegas Bambang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Syita Ananta maupun instansi terkait mengenai penyebab temuan menu berulat tersebut serta langkah evaluasi yang akan ditempuh.
Rentetan temuan menu MBG bermasalah ini kembali memicu desakan agar pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh SPPG di Sumenep, termasuk pengetatan pengawasan mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Moo/Red

